PROFIL LEMBAGA

   
unduhan
Logo PKBI
          Berdiri sejak 23 Desember 1957, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) merupakan LSM tertua yang memelopori gerakan Keluarga Berencana di Indonesia. Lahirnya PKBI dilatarbelakangi oleh keprihatinan para pendiri PKBI, yang terdiri dari sekelompok tokoh masyarakat dan ahli kesehatan, terhadap berbagai masalah kependudukan dan tingginya angka kematian ibu di Indonesia.
         Beberapa tokoh penting yang menjadi kunci lahirnya lembaga KB pertama di Indonesia tersebut adalah DR R.Soeharto, Ny. Dr. Hurustiati Soebandrio, Ny Nani Soewondo SH, Ny Untung, Ny H.RABS Samsuridjal, Prof DR. Sarwono, Prawirohardjo , Ny Pojotomo, Dr. M. Judono, Dr.R.Hanifa Winyosastro, Ny Roem, Dr. Koen S Martiono. Tokoh seperti Dr Abraham Stone (Kepala Margareth Sanger Research Institute New York) (telah meninggal) dan Mrs Dorathy Brush(anggota Field Service IPPF) (juga telah wafat) bersama Dr. R Soeharto (juga telah wafat) pernah menghadap Presiden Soekarno yang saat itu tetap tidak membenarkan usaha keluarga berencana secara luas terbuka atau sebagai unsur politik kependudukan, meskipun demikian beliau dapat menyetujui keluarga berencana dengan cara tubektomi sekalipun demi kesehatan dan kese­lamatan sang ibu.
         Di tahun 1967 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Indonesia Planned Parenthood Federation (IPPF) diakui sebagai badan hukum oleh Departemen Kehakiman. Kelahiran Orde Baru pada waktu itu menyebabkan perkembangan pesat usaha penerangan dan pelayanan KB di seluruh wilayah tanah air. Lahirnya  Orde Baru pada bulan maret 1966 masalah kependudukan menjadi fokus perhatian pemerintah yang meninjaunya dari berbagai perspektif. Perubahan politik berupa kelahiran Orde Baru tersebut berpengaruh pada perkembangan keluarga berencana di Indonesia. Setelah simposium Kontrasepsi di Bandung pada bulan Januari 1967 dan Kongres Nasional I PKBI di Jakarta pada tanggal 25 Februari 1967.
Berikut beberapa hasil Kongres Nasional pertama kali PKBI di Jakarta, antara lain :
  1. PKBI menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pemerintah yang telah mengambil kebijaksanaan mengenai keluarga berencana yang akan dijadikan program pemerintah
  2. PKBI mengharapkan agar Keluarga Berencana sebagai Program Pemerintah segera dilaksanakan.
  3. PKBI sanggup untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan program KB sampai di pelosok-pelosok supaya faedahnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
         PKBI percaya bahwa keluarga adalah pilar utama untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Keluarga yang dimaksud ialah keluarga yang bertanggung jawab, yaitu keluarga yang menunaikan tanggung jawabnya dalam dimensi kelahiran, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan. Menghadapi berbagai permasalahan kependudukan dan kesehatan reproduksi dewasa ini, PKBI menyatakan bahwa pengembangan program-programnya didasarkan pada pendekatan yang berbasis hak sensitif gender dan kualitas pelayanan serta keberpihakan kepada kelompok miskin dan marginal melalui semboyan “berjuang untuk pemenuhan hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi”.
Visi dan Misi PKBI :
Visi :
Terwujudnya masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan Kesehatan Reproduksi ( Kespro ) dan /seksual serta hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.
Misi :
  1. Memberdayakan anak dan remaja agar mampu mengambil keputusan dan berperilaku bertanggung jawab dalam hal Kesehatan Reproduksi dan Seksual serta hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual.
  2. Mendorong partisispasi masyarakat, terutama masyarakat miskin, marginal, tidak terlayani, untuk memperoleh akses, informasi, pelayanan dan hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual yang berkualitas serta berkesetaraan dan berkeadilan jender.
  3. Berperan aktif dalam mengurangi prevalensi IMS dan menanggulangi HIV/AIDS, serta mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dan OHIDA.
  4. Memperjuangkan agar hak-hak Reproduksi dan Seksual perempuan diakui dan dihargai terutama berkaitan dengan berbagai alternatif penanganan kehamilan tidak diinginkan.
  5. Mendapat dukungan dari pengambil kebijakan, stakeholder, media dan masyarakat terhadap program Kesehatan Reproduksi dan Seksual serta hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual.
  6. Mempertahankan peran PKBI sebagai LSM pelopor, professional, kredibel, bekelanjutan dan mandiri dalam bidang Kesehatan Reproduksi dan Seksual serta hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual dengan dukungan relawan dan staf yang professional.
         Dalam perkembangannya, PKBI juga memiliki beberapa strategi untuk melakukan pengembangan sebagai pemenuhan kebutuhan baik informasi dan juga pelayanan yang komperhensif terkait tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Berikut adalah beberapa strategi yang dilakukan PKBI, antara lain :
STRATEGI I : Mengembangkan model-model dan standar pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
STRATEGI II : Memberdayakan masyarakat untuk memperjuangkan hak seksual dan reproduksi bagi dirinya dan orang lain
STRATEGI III : Mengembangkan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan IMS dan HIV dan AIDS
STRATEGI IV: Melakukan advokasi di semua tingkatan organisasi kepada para pengambil kebijakan untuk menjamin pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi.
STRATEGI V : Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan Sumber Daya Organisasi.
 
PKBI Jawa Timur :
         PKBI daerah Jawa Timur merupakan salah satu contoh dari 26 daerah yang ada  di seluruh Indonesia ini, memilik beberapa PKBI cabang di masing-masing kota dan kabupaten antara lain Surabaya, Pamekasan, Bangkalan, Gresik, Bojonegoro, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, Jombang, Kab.Madiun, Madiun, Trenggalek, Tulungagung, Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Lumajang, dan juga Bondowoso.
         Sesuai dengan renstra (rencana strategi) yang telah di sahkan ketika musyawarah nasional PKBI, masing-masing PKBI daerah wajib memiliki youth center. Keberadaan youth center  tidak hanya di taraf provinsi namun juga tersebar di tiap cabang. Sejauh ini, PKBI daerah Jawa Timur sudah memiliki satu youth center pusat dan dua youth center cabang loh, yakni SeBAYA PKBI Jawa Timur sebagai pusat Youth Center serta Jombang dan Pamekasan sebagai Youth center cabang di daerah Jawa Timur.
         Youth center PKBI merupakan wadah bagi orang muda untuk belajar lebih banyak terkait dengan isu kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja. Selain itu, keberadaan youth center diharapkan mampu mengembangkan potensi dan peningkatan kualitas seperti pengorganisasian, kepemimpinan, serta alternatif mobilisasi sumber daya pada remaja.
         Remaja sendiri merupakan mitra utama dari youth center. Keterlibatan remaja (meaningful youth participation) MYP dalam berbagai hal mulai kepengurusan, kegiatan, serta program, merupakan salah satu kebijakan yang diberikan PKBI. Semua remaja berhak untuk terlibat secara penuh, bahkan remaja komunitas sekalipun. Selama ini, remaja komunitas masih sering mendapat pandangan negatif. Youth center berusaha untuk menghilangkan pandangan tersebut, dan memunculkan sisi positif dari keterlibatan remaja komunitas. Remaja dianggap mampu untuk duduk bersama dengan orang dewasa, bertukar pendapat dan ide terkait dengan permasalahan yang ada, dan merumuskan suatu penyelesaian.
SeBAYA PKBI JATIM
         Youth Center  PKBI daerah Jawa Timur atau yang biasa sudah dikenal dengan nama SeBAYA PKBI Jawa Timur ini, berdiri sejak tahun 1980 hingga sekarang. SeBAYA sendiri yang merupakan Youth center pusat untuk PKBI daerah Jawa Timur, hingga saat ini tetap mempertahankan eksistensinya sebagai pusat informasi dan layanan terkait tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual Remaja. SeBAYA sendiri memiliki arti setara atau sepantaran, sedangkan huruf e ditulis kecil untuk menggantikan kata “rek” atau panggilan khas Suroboyoan. Hal ini dimaksudkan agar remaja tidak malu untuk sharing seputar masalah yang dihadapinya. Permasalahan yang paling banyak dihadapi remaja Surabaya adalah minimnya kesadaran remaja terhadap HKSR (Hak Kesehatan Seksual Reproduksi). Banyak remaja yang merasa tidak butuh terhadap informasi tersebut.
         Gaya hidup serba instan di kota metropolitan seperti Surabaya membuat remaja acuh terhadap informasi seputar HKSR. Padahal fakta di lapangan menunjukkan masih banyak perilaku remaja dengan risiko tinggi yang mengarah pada kekerasan dalam pacaran (KDP), pelecehan, bullying, hingga kasus ODHA (orang dengan HIV AIDS) remaja. Bukan berarti ini adalah salah remaja seutuhnya, mengingat setiap individu mempunyai hak sebagai makhluk hidup. Namun bagaimana mereka mampu mengolah atau management sexual drive yang ada di dalam diri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi SeBAYA PKBI Jawa Timur, untuk menyebarkan informasi secara komprehensif (menyuluruh) kepada remaja.
Youth Center Cabang PKBI Jawa Timur :
         Keberadaan Youth center di setiap PKBI masing-masing daerah yang ada di Indonesia, merupakan salah satu pengembangan yang dilakukan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan terkait tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual pada masyarakat secara umum. Pengembangan tersebut juga dilakukan oleh PKBI di masing-masing daerah seluruh Indonesia, seperti hal nya juga yang sudah dilakukan oleh PKBI Daerah Jawa timur, yang memiliki SeBAYA PKBI Jawa Timur sebagai pusat Youth Center serta Jombang dan Pamekasan sebagai Youth center cabang di daerah Jawa Timur
         Youth center cabang yang berada di wilayah Jombang ini bernama SeBAYA Youth Center, atau biasa disingkat menjadi SeBAYA YC. Merupakan youth center yang terbilang baru, karena mulai berdiri di tahun 2013. Meski begitu, eksistensi SeBAYA YC tidak perlu diragukan. Sudah banyak remaja yang mengetahui apa dan siapa SeBAYA YC. Tingginya kepedulian terhadap kasus-kasus remaja seperti IMS (Infeksi Menular Seksual), kekerasan seksual, hingga KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) mendasari berdirinya SeBAYA YC cabang Jombang.
         Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah tingginya perilaku seks berisiko dan kekerasan pada remaja, serta masih adanya beberapa masyarakat umum yang menganggap tabu untuk masalah Kesehatan Reproduksi dan Seksual, merupakan tantangan tersendiri bagi SeBAYA YC Jombang untuk memberikan informasi tersebut, mengingat Jombang termasuk kota beriman (bersih, indah, dan nyaman) dan sering disebut sebagai kota santri. Dengan berbagai tantangan yang ada, tidak membuat SeBAYA YC mundur untuk terus menyebarkan informasi tentang HKSR secara komprehensif dan membentuk skill remaja.
         Di Pamekasan sendiri, sebagian besar masyarkatnya sudah familiar dengan youth center cabang Pamekasan, atau yang biasa diekenal oleh teman-teman muda-mudi Pamekasan dengan nama Yc. Perisai. Hingga saat ini pun tercatat jika pernikahan dini merupakan salah satu Isu yang masih begitu melekat di wilayah Pamekasan, hingga banyak remaja berusia belasan yang harus memikirkan tentang mahligai rumah tangga. Adanya kepercayaan dari Budaya dan Adat di Pamekasan, dimana jika seorang anak tidak segera dinikahkan, maka dianggap tidak laku dan tergolong aib keluarga. Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pemicu terjadinya pernikahan dini, karena orang tua ingin segera lepas dari tanggung jawabnya kepada anak.
         Tinginya pernikahan dini yang terjadi di Pamekasan, ternyata juga dialami oleh beberapa daerah lain di Indonesia. Sehingga, membuat remaja tergerak untuk mengakaji kembali Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974, tentang Perkawinan. Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, bab II pasal 7 tentang syarat-syarat perkawinan, tertulis bahwa “perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”.
         Jelas terlihat jika negara pun belum mendewasakan usia perkawinan. Padahal, ketika individu memutuskan untuk menikah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Memang, usia tidak dapat digunakan sebagai patokan mengukur tingkat kedewasaan atau kesiapan individu dalam menikah. Namun kriteria individu dikatakan dewasa atau siap pun tidak hanya dilihat dari usia, tetapi juga dari berbagai aspek. Mulai dari kesiapan fisik, batin, finansial, hingga kesiapan organ reproduksi. Perempuan usia 16 tahun kebawah, belum memiliki kekuatan penuh pada rahim. Sehingga, berisiko besar untuk mengalami keguguran yang dapat mengakibatkan pendarahan dan berujung kematian pada ibu. Sedangkan laki-laki dengan usia 19 tahun kebawah, rata-rata belum mampu mengontrol emosi yang dimiliki. Sehingga besar kemungkinan untuk mengalami cekcok di dalam rumah tangga dengan pasangan.
         Melihat keadaan di Indonesia, salah satunya Pamekasan. Youth center bergerak untuk merubah kebijakan yang ada dalam Undang-Undang perkawinan. Adanya aksi salah seorang remaja dari perwakilan Youth Center PKBI di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, adalah salah satu bentuk keterlibatan youth center dalam isu HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) untuk mendewasakan usia perkawinan di Indonesia. Meski usulan tersebut masih harus dikaji kembali, namun banyak dukungan yang datang dari seluruh pihak di Indonesia. Hal ini menandakan jika keterlibatan remaja dalam youth center cukup diakui.
         Youth center sendiri tidak hanya berperan dalam melakukan penyeberan informasi seputar HKSR semata. Namun juga sebagai wadah untuk ajang berekspresi bagi remaja. Beberapa kegiatan yang dibuat oleh youth center dimana remaja terlibat penuh di dalamnya mulai perencanaan konsep hingga berlangsungnya kegiatan, seperti sosialisasi ke sekolah mitra, penyebaran informasi melalui radio mitra, berjejaring dengan provider, pertemuan rutin remaja, peringatan Hari Remaja Sedunia, peringatan Hari AIDS Sedunia, pelatihan peer counselor, pelatihan SRHR, hingga proses advokasi mulai jajaran daerah sampai ranah nasional, Keep Fighting and Spirit For Youth Center all Of PKBI.
Klinik PKBI Di Indonesia :
         Selain melakukan pengembangan informasi dengan melibatkan anak dan remaja dalam melakukan pemenuhan kebutuhan akan informasi terkait kesehatan reproduksi dan seksual,  PKBI juga terus melakukan upaya peningkatan terhadap layanan-layanan yang ada pada PKBI secara keseluruhannya. Upaya PKBI adalah untuk mewujudkan model-model layanan reproduksi dan seksual yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat. Hingga saat ini, telah tersebar beberapa klinik kesehatan reproduksi PKBI di provinsi hingga cabang daerah di seluruh Indonesia. Rata-rata layanan utama yang diberikan oleh klinik PKBI adalah sebagai berikut :
  1. Pelayanan Kontrasepsi, layanan kontrasepsi disini meliputi kontrasepsi pil, suntik 1 bulan dan 3 bulan, pemasangan dan pencabutan IUD dan implant, vasektomi dan tubektomi, serta kontrasepsi kondom (laki-laki dan perempuan).
  2. Pelayanan Kesehatan Reproduksi, pelayanan ini meliputi pemeriksaan kehamilan, USG, papsmear, dan pemeriksaan ginekolog.
  3. Konseling, konseling yang dimaksud adalah konseling keluarga dan remaja, konseling tentang kontrasepsi, konseling kesehatan reproduksi, serta pre-marriage counselling.
         Klien yang mengakses layanan PKBI tidak hanya didominasi oleh perempuan atau pasutri, namun dari kalangan remaja pun turut mengakses layanan yang tersedia, terutama untuk konseling. Umumnya remaja mengakses layanan konseling remaja dan mengakses informasi seputar kesehatan reproduksi dan seksual.
Ditulis Oleh : Iqbal Tabrani Al Ikhlas, Lutviani Hafidah, Imroatu Solikhati Setyo dan SeBAYA PKBI Jawa Timur

 

2 thoughts on “PROFIL LEMBAGA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s