Uncategorized

REMAJA DAN HUBUNGAN BERKUALITAS

DOELOE & SEKARANG

Kalau ngomongin soal cinta rasanya gak adil deh kalau kita tidak melihat sejarah sebelum akhirnya kita bisa juga memahami dan memaknai sebuah cinta itu.  Tapi eitz, tunggu dulu deh, bukan berarti masa cinta dulu dan sekarang bisa kita semua jadikan sebagai acuan untuk akhirnya bisa melakukan pemahaman serta pemaknaan sebuah cinta itu sendiri lho, karena tentunya pada jaman dulu dan sekarang sudah tentu akan berbeda mulai dari proses, karakter, serta pemahaman untuk memaknai cinta itu.
Yupz, hal tersebut tentunya juga sangat sama dengan apa yang akan kita bahas yaitu mengenai REMAJA DAN HUBUNGAN BERKUALITAS. Secara kasat mata, mungkin tidak akan perbedaan yang mendalam sih terkait 2 hal tersebut. Yang pasti jika kita ngomongin Remaja sekarang dan Remaja dulu, pasti sudah akan berubah seiring dengan perkembangan jaman, budaya, dan juga karakteristiknya.
Tidak terkecuali dengan makna dari hubungan berkualitas itu harus seperti apa dan bagaimananya, sudah akan pasti berubah dari jaman dulu dan sekarang. Meskipun tidak akan ada perbedaan yang terlalu dalam, karena sejatinya sebuah hubungan berkualitas memiliki 2 faktor utama yakni komitmen dan konsistensi. Artinya hubungan akan menjadi berkualitas dengan kita selalu mengedepankan sebuah komitmen dan terus konsistensi terhadap komitmen yang sudah di bangun bersama-sama tersebut.
Nah biar Sobat Remaja tidak makin penasaran seperti apa sih sebenarnya cara serta proses pemahaman yang benar mengenai Hubungan berkualitas itu, kita simak yuk pembahasannya berikut, dimana ini juga merupakan hasil kita siaran dan berdiskusi dengan beberapa Sobat Remaja SeBAYA PKBI Jatim.

KOMUNIKASI DAN BERBAGI

Membangun sebuah hubungan itu ibarat nya seperti kita sedang menaiki perahu di laut lepas, dimana proses mendayung perahu itu tidak akan bisa dilakukan secara bersama-sama oleh penumpang perahu tersebut. Jika tetap akan di paksakan, hasilnya akan sangat fatal dan tidak akan pernah mencapai sebuah tujuan yang sudah di rencanakan.
Sama halnya dengan saat kita menjalin sebuah hubungan cinta, sering kali terjadi sebuah pertengkaran kecil hanya karena sebuah masalah yang sebenarnya tidak teralu besar, tetapi karena ego dari masing-masing kita membuat semuanya menjadi tidak seperti yang harusnya di inginkan dalam hubungan tersebut.
Tak terkecuali saat kita baru menginjak usia remaja. Usia dimana kita sebagai seorang remaja sangat masih ingin adanya sebuah kebebasan dan tidak terikat oleh sebuah aturan yang akan menjadi keterikatan serta muncul proses komitmen dan konsistensi. Permasalahan yang muncul pun seolah akan menjadi sangat besar dan tidak terselesaikan, karena ego dan emosi yang menguasai diri kita yang masih sama-sama sangat labil dan tidak menentu ini.
Oleh karena itu proses komunikasi serta saling berbagi begitu sangat penting dan menjadi salah satu peranan pendukung dari 2 faktor utama dalam menjalin sebuah hubungan berkualitas. Kadang sangat susah dan lebih banyak yang menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang sepele serta cenderung sangat di abaikan. Tetapi justru jika hal tersebut bisa dilakukan dengan bergantian serta bukan dengan pakasaan, bukan tidak mungkin kita sebagai seoerang remaja akan bisa memiliki sebuah jalinan hubungan yang sangat berkualitas walaupun proses perjalanan mencapai hasil masih terbilang sangat panjang, karena semakin kita bisa melewati satu proses, akan ada sebuah proses lanjutan untuk tahap hubungan berikutnya.

SEHAT DAN BERKUALITAS

Cinta memang kadang membuat para kawula muda terlena akan manis dan indahnya rasa serta perasaan yang mereka rasakan saat bersama dengan orang yang mereka sangat sayang dan cintai tersebut. Segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka pun seolah tidak akan berarti apa-apa, karena menganggap dunia hanya milik mereka berdua saja tanpa mempedulikan orang di sekitarnya tersebut.
Menjalin sebuah hubungan atau biasa sudah dikenal dengan istilah Pacaran adalah proses perkenalan antara dua insan yang sedang merasakan manis dan indahnya sebuah makna cinta. Selain itu pacaran juga merupakan sebuah proses mengenal dan memahami lawan jenis (calon pasangan hidup) dan belajar membina hubungan yang adekuat (berkomunikasi dan menyelesaikan konflik) dengan pasangannya tersebut, sebagai persiapan sebelum menikah dan untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan serta permasalahan dalam kehidupan berumahtangga yang tidak diantisipasi sebelumnya.
Pacaran sendiri sebenarnya jika secara konteks agama, dikenal dengan istilah Ta’aruf yaitu proses perkenalan antara dua orang yang sedang dan akan membina sebuah hubungan yang akan di persiapkan secara matang menuju sebuah ibadah dalam ikatan indah dan juga manisnya pernikahan. Pada masa remaja, tujuan pacaran atau Ta’aruf lebih pada status dan upaya mendapatkan kesenangan, maka biasanya belum ada unsur tanggung jawab dan komitmen di dalamnya. Oleh karena itu, pacaran membutuhkan kesiapan tersendiri jika dikaitkan dengan tujuannya.
Kunci kedewasaan seseorang akan menjalin hubungan secara intim dengan pasangannya dilihat dari kesiapan untuk memenuhi tanggung jawab. Hal ini dilihat dari kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan peran, membagi waktu, perhatian serta tanggung jawab antara belajar, pekerjaan rumah, dan pacaran; kesiapan untuk berbagi dengan orang lain (memperhatikan, mendukung kepada pacar), kesiapan untuk menghadapi berbagai permasalahan dalam pacaran (putus pacar, konflik dengan teman, konflik dengan orangtua), kesiapan untuk tetap bisa mengendalikan diri dan mematuhi nilai-nilai yang dianut dalam berhubungan dengan lawan jenis.

CINTA DAN SEKS

Pacaran merupakan salah satu bentuk ekspresi akibat adanya perbedaan naluriah seks dua jenis kelamin. Semua laki-laki dan perempuan normal menyimpan ketertarikannya masing-masing terhadap lawan jenis. Dari sini pemahaman tentang seks diawali oleh secara seksual laki-laki tertarik dengan perempuan sebagaimana perempuan tertarik dengan laki-laki sama kuatnya.
Berpacaran tidak berarti seks. Pacaran yang sehat justru akan melupakan unsur seks. Seks dapat muncul pada saat dimana pengikatan diri yang bernuansa tanggung jawab di antara kedua orang itu sudah resmi secara hukum negara dan agama. Cinta yang luhur dan seks hanya dapat digabungkan dalam ikatan pernikahan.cCinta yang muncul dalam hubungan seks di luar nikah sifatnya ‘semu’(lebih bersumber dari dorongan atau nafsu semata yang menimbulkan perasaan tertentu: seperti tentram, nyaman, cinta, dsb)
Secara faali, pihak remaja laki-lakibertabiat lebih gampang tancap gas dan telat menginjak ‘rem’. Pihak remaja perempuan biasanya masih dalam kondisi sadar saat laki-lakinya sudah lupa daratan. Inilah sebetulnya saat yang tepat untuk menginjak ‘rem’ kuat-kuat. Penegndalian diri dalam hal ini seringkali gagal, oleh karena itu lingkungan harus diciptakan agar ‘rem’ tidak telat diinjak.

BERSAMA KITA BISA

Selain dengan kita akan selalu menjaga dan bersama-sama, melakukan pencegahan juga merupakan salah satu yang sangat dan tepat sekali dilakukan dalam menjalin serta membangaun sebuah hubungan yang sehat berkualiatas tersebut.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai langkah dan dasar dari sebuah proses membangun dan mempersiapkan hubungan yang lebih matang dan akan selalu berkulaitas.
  1. Saling terbuka
  2. Menerima pasangan apa adanya
  3. Saling menyesuaikan
  4. Tidak melibatkan aktivitas seksual
  5. Mutual dependensi
Masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Hal ini didasarkan bahwa setiap manusia mempunyai komposisi kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
6. Mutual respect
saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara
7.Bertujuan
Memiliki tujuan jangka panjangn untuk mempersiapkan diri menuju pernikahan
 Selain itu, ada juga beberapa hal pokok dan sangat penting untuk selalu di ingat ketika sedang dalam menjalin proses membangun sebuah hubungan yang Sehat, Berkualitas dan Bertanggung jawab, antara  lain adalah :
  1. Sebaiknya tidak melibatkan perasaan, emosi, dan cinta terlalu dalam. Orang yang terlalu cinta (sangat tergantung) akan kehilangan kontrol mengenai diri dan tindakannya hingga dapat ditekan atau diperalat oleh pacarnya
  2. Hindarkan melibatkan seks dalam hubungan pacaran. Keterlibatan seks yang terlalu dalam akan menyebabkan kontrol diri terhadap aktivitas seksualnya berkurang sehingga dapat disalahgunakan oleh pasangannya.
  3. Perlu dipertimbangkan untuk berhati-hati dalam memilih teman sebaya. Pilihlah teman sebaya yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Seringkali gaya berpacaran juga dipengaruhi oleh lingkungan teman sebaya. Makin bebas dan terbuka gaya pacaran di lingkunan teman sebaya, makin mudah membuat rasionalisasi bahwa ‘gaya pacaran yang bebas dan terbuka merupakan hal yang lumrah dan banyak dilakukan orang.’
Buat Sobat Remaja lainnya, yang mau bertanya, diskusi, dan sharing lebih lanjut lagi, bisa langsung saja menghubungi kita di Facebook/Twitter kita diSeBAYA PKBI Jatim,atau bisa juga lewat Hotline Konseling kita di 085606060466.
Ditulis oleh : Jefri Setiawan ( Co.Sekolah SeBAYA PKBI Jatim)

Refrensi :

Materi siaran 2 Februari 2016
Modul 3 Perkembangan seksualitas Remaja, SeBAYA PKBI Jatim, 2012
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s