Uncategorized

Mengenal Lebih Dekat Seksualitas Remaja dengan Autisme

autisme

Karena keterbatasannya dalam menjalin interaksi dan komunikasi sosial dengan orang lain dan ketidakmatangannya dalam hal emosi, membuat seseorang dengan autisme sulit memahami norma dan tanda-tanda sosial yang implisit. Hingga dia pun mengalami masalah dalam ekspresi dan perilaku seksual saat menginjak usia remaja.”

Semua orang itu mengalami perkembangan seksualitas yang sama, tak terkecuali seseorang dengan autisme. Tapi, tahukah Sobat Remaja bahwa tidak seperti kebanyakan difabel lainnya, remaja dengan autisme mengalami lebih banyak masalah dalam hal ekspresi dan perilaku seksual? Jika belum, yuk, kita simak info selengkapnya!

Apa itu Autisme?

autisme2

Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) adalah suatu gangguan berupa kesulitan dalam komunikasi sosial dan memiliki minat yang terfiksasi serta perilaku yang berulang dan terbatas. Gangguan ini dapat didiagnosis sejak anak berumur kurang dari 3 tahun, dan bisa dideteksi dini oleh orang tua sebelum dibawa ke psikolog, psikiater, atau dokter anak, untuk memastikan gangguan tersebut beserta penanganan yang sesuai.

Gejala yang ditunjukkan orang dengan autisme selalu berbeda dengan yang ditunjukkan seseorang dengan gangguan yang sama, bahkan anak kembar sekali pun. Contohnya, ada yang sangat peka terhadap rasa sakit, dan ada pula yang tidak. Perbedaan ini dipengaruhi oleh tingkat autisme yang dialami.

Selain itu, autisme tidak terkait dengan tingkat IQ. Meski ada mitos bahwa seseorang dengan autisme pasti memiliki tingkat IQ yang rendah. Faktanya, banyak orang dengan autisme yang sukses di berbagai bidang pendidikan dan pekerjaan. Ada yang menjadi penulis, dosen, musisi, maupun seniman. Jadi, seseorang dengan autisme dapat memiliki IQ superior ataupun rendah.

Perkembangan Seksualitas pada Remaja dengan Autisme

autisme3

Remaja autisme mengalami pubertas di waktu yang kurang lebih sama dengan remaja lainnya; menarche pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Bahkan, seperti remaja lain, ada pula dari mereka yang mengalami pubertas lebih cepat ataupun lebih lambat dari usia rata-rata.

Mereka juga mengalami berbagai perubahan fisik sebagai akibat dari perubahan kadar hormon karena pubertas tadi. Sebagai contoh, payudara membesar pada remaja perempuan, atau jakun pada remaja laki-laki. Organ reproduksi mereka juga telah matang dan dapat bereproduksi. Selain itu, sebuah penelitian dari Sullivan dan Caterino menemukan bahwa 75% seseorang dengan autisme juga melakukan masturbasi dan perilaku seksual, seperti kebanyakan remaja lainnya.

Namun, ada pula perbedaan. Karena keterbatasan sesorang dengan autisme dalam menjalin interaksi dan komunikasi sosial dengan orang lain dan ketidakmatangannya dalam hal emosi, membuatnya sulit memahami norma dan tanda-tanda sosial yang implisit. Hingga dia pun mengalami masalah dalam ekspresi dan perilaku seksual saat menginjak usia remaja. Contohnya, masturbasi di tempat umum, remaja laki-laki dengan autisme menyentuh payudara perempuan yang membangkitkan hasrat seksualnya, echolalia dengan mengulang kata-kata porno, memiliki kebiasaan menonton video porno, dan sebagainya.

 

Pentingnya Pendidikan Seksual bagi Remaja dengan Autisme

Kesulitan remaja dengan autisme dalam mengelola hasrat seksual yang dirasakan sehingga memunculkan perilaku seksual yang  dianggap melanggar norma, merupakan masalah yang harus diatasi. Caranya adalah dengan memberikan pendidikan seksual yang komprehensif kepada mereka. Hal ini karena kesulitan mereka itu bisa membuat orang lain mem­-bully karena kurang tahu akan alasan mengapa perilaku seksual tersebut muncul. Selain itu, banyak orang bisa salah paham dan menyangka bahwa mereka melakukan itu dengan sengaja dan mengalami gangguan jiwa parah atau membuat mereka mengalami kekerasan seksual karena dianggap menikmati.

Ini membuat pendidikan seksual bagi remaja dengan autisme sangat dibutuhkan. Namun, pendidikan seksual tersebut tentu berbeda dengan yang umum diberikan. Pendidikan seksual dan reproduksi bagi remaja dengan kondisi autisme harus sistematis, jelas, dan terperinci serta disampaikan dengan metode penyampaian yang cocok dengan mereka. Di sini orang tua dan pengajar juga harus bersinergi untuk membuat program pendidikan seksual bagi remaja dengan kondisi autisme.

Nah buat Sobat Remaja lainnya, yang mau bertanya, diskusi, dan sharing lebih lanjut lagi, bisa langsung saja menghubungi kita di Facebook/Twitter kita di SeBAYA PKBI Jatim,atau bisa juga lewat Hotline Konseling kita di 085606060466.

Ditulis Oleh : Fatimah ( Tim Riset dan Advokasi, SeBAYA PKBI Jatim)

Referensi

  1. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition. Arlington, VA: American Psychiatric Association.
  2. http://psikologiforensik.com/2014/09/03/pendidikan-seks-untuk-remaja-dengan-autisme/
  3. http://yudi.staff.mb.ipb.ac.id/files/2010/06/Seksualitas-Remaja-Autis1.pdf
  4. http://www.autis.info/index.php/tentang-autisme/apa-itu-autisme

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s